🔥 INFO RESMI
🚀 JASA PEMBUATAN WEBSITE PROFESIONAL (Mulai 700 Rb, 1–3 Hari Jadi)  •  🤝 Komisi Reseller Website 15% (Rp 105rb s/d Rp 375rb+)  •  📰 Tulis Artikel Berita dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎬 Join Campaign Clipper dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎁 Bonus E-Book Bisnis & 7 Creator Tools Gratis  •  Lihat Paket Jasa →  •  Pelajari Marketing Plan →  •  Daftar Member Gratis → 🚀 JASA PEMBUATAN WEBSITE PROFESIONAL (Mulai 700 Rb, 1–3 Hari Jadi)  •  🤝 Komisi Reseller Website 15% (Rp 105rb s/d Rp 375rb+)  •  📰 Tulis Artikel Berita dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎬 Join Campaign Clipper dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎁 Bonus E-Book Bisnis & 7 Creator Tools Gratis  •  Lihat Paket Jasa →  •  Pelajari Marketing Plan →  •  Daftar Member Gratis →
punyalink.id
Hujan abu vulkanik: Ini 9 cara melindungi pernapasan dan mata
Gaya Hidup

Hujan abu vulkanik: Ini 9 cara melindungi pernapasan dan mata

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat kembali menyemprotkan water mist di sejumlah jalan protokol dan ruang terbuka hijau sebagai upaya menangani dampak paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, Selasa (8/9/2026). (ANTARA/HO-Pemkot Jakpus) Jakarta (ANTARA) - Erupsi gunung api dapat membawa abu vulkanik ke wilayah yang berada jauh dari pusat letusan. Partikel abu yang terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan, sementara paparan pada mata dan kulit juga dapat menimbulkan iritasi. Karena itu, masyarakat perlu mengetahui langkah perlindungan yang tepat ketika hujan abu terjadi.

Abu vulkanik terdiri dari partikel halus hasil letusan yang dapat terbawa angin. Paparan abu dan gas vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata serta saluran pernapasan, terlebih pada anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma.

Berikut sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.

Ketika abu vulkanik mulai turun, masyarakat sebaiknya berada di dalam ruangan dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Tutup pintu dan jendela agar abu dari luar tidak mudah masuk.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jika memungkinkan, matikan pendingin ruangan, kipas, atau sistem ventilasi yang mengambil udara dari luar selama hujan abu berlangsung. Langkah tersebut membantu mengurangi masuknya partikel abu ke dalam rumah.

Namun, masyarakat tetap harus mengikuti arahan petugas. Jika pemerintah setempat memerintahkan evakuasi, warga perlu segera meninggalkan wilayah terdampak melalui jalur yang telah ditentukan.

2. Gunakan masker atau respirator yang sesuai

Jika harus keluar rumah ketika abu masih beterbangan, gunakan respirator partikulat yang memiliki kemampuan penyaringan tinggi. CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH untuk mengurangi paparan abu vulkanik ketika berada di luar ruangan atau saat membersihkan abu.

N95 harus terpasang rapat pada wajah agar dapat bekerja dengan baik. Celah di sekitar hidung atau pipi dapat membuat udara yang mengandung partikel masuk dari sisi respirator.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jika N95 tidak tersedia, masker debu biasa dapat menjadi pilihan terakhir untuk mengurangi paparan, tetapi tingkat perlindungannya tidak setara dengan respirator partikulat. Karena itu, waktu berada di luar ruangan sebaiknya tetap dibatasi.

Abu vulkanik dapat mengiritasi mata. Gunakan kacamata pelindung atau goggles ketika harus berada di luar ruangan, terutama saat abu masih turun atau ketika membersihkan lingkungan yang tertutup abu.

Hindari menggosok mata dengan tangan apabila terkena abu. Bersihkan mata dengan air bersih secara perlahan dan segera cari pertolongan medis apabila iritasi berat atau gangguan penglihatan berlanjut.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang ketika harus berada di luar. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi kontak langsung abu dengan kulit yang berpotensi menimbulkan iritasi.

Setelah kembali ke dalam rumah, bersihkan bagian tubuh yang terkena abu dan ganti pakaian jika sudah kotor.

Selama hujan abu berlangsung, masyarakat sebaiknya tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Paparan yang lebih lama berarti meningkatkan jumlah abu yang dapat terhirup.

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk anak-anak dan orang dengan asma atau penyakit jantung maupun paru-paru, perlu lebih ketat menghindari paparan. Abu dan gas vulkanik dapat memperburuk gangguan pernapasan yang sudah ada.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bagi orang yang memiliki obat rutin untuk penyakit pernapasan, obat tersebut sebaiknya tetap tersedia dan digunakan sesuai petunjuk dokter.

Abu yang sudah mengendap tidak berarti tidak berbahaya. Aktivitas menyapu atau membersihkan abu dapat membuat partikel kembali beterbangan dan terhirup.

Gunakan respirator yang sesuai serta pelindung mata ketika membersihkan abu. Hindari mengangkat atau menyapu abu secara kasar agar tidak menghasilkan debu berlebihan.

Atap bangunan juga perlu diperhatikan. Abu vulkanik yang menumpuk dapat menambah beban atap. Namun, pembersihan atap memiliki risiko jatuh sehingga sebaiknya dilakukan dengan sangat hati-hati dan mengikuti arahan petugas setempat.

Mengemudi ketika abu vulkanik sedang turun lebat dapat membahayakan keselamatan. Abu dapat mengurangi jarak pandang dan membuat kondisi jalan licin.

Selain itu, kendaraan yang melewati lapisan abu dapat mengaduk partikel ke udara. Abu juga berpotensi masuk ke mesin dan menyebabkan gangguan pada kendaraan. Karena itu, perjalanan sebaiknya ditunda sampai kondisi dinyatakan aman.

Jika berkendara benar-benar diperlukan, tutup jendela kendaraan dan hindari menggunakan sistem pendingin yang mengambil udara dari luar.

Abu vulkanik dapat mencemari sumber air dan permukaan makanan. Karena itu, makanan dan wadah air sebaiknya ditutup selama hujan abu.

Apabila sumber air terkena abu dan kualitasnya diragukan, gunakan sumber air lain yang aman sampai ada kepastian bahwa air tersebut layak digunakan.

Langkah paling penting ketika terjadi erupsi adalah mengikuti informasi dari pemerintah daerah, Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta instansi terkait.

Masyarakat tidak disarankan menentukan sendiri apakah suatu wilayah sudah aman untuk dikunjungi. Arahan mengenai zona bahaya, evakuasi, maupun aktivitas yang diperbolehkan dapat berubah mengikuti perkembangan erupsi.

Segera mencari bantuan medis apabila setelah terpapar abu muncul gangguan pernapasan yang berat, sesak, nyeri dada, pusing berat, atau gejala lain yang tidak membaik setelah menjauh dari sumber paparan.

Paparan abu dan gas vulkanik dapat menimbulkan iritasi mata serta saluran pernapasan, sedangkan konsentrasi gas tertentu yang tinggi dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih serius.

Pada dasarnya, perlindungan dari abu vulkanik dilakukan dengan mengurangi paparan sebanyak mungkin. Tetap berada di dalam ruangan, menutup akses masuknya abu, menggunakan respirator yang sesuai ketika harus keluar, melindungi mata dan kulit, serta mengikuti arahan petugas merupakan langkah utama untuk menjaga keselamatan selama erupsi, demikian mengutip Centers for Desease Control and Prevention (CDC) dan beberapa sumber lain.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Kirim Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Sumber Rujukan Berita Resmi: antaranews.com (https://www.antaranews.com/berita/5734361/hujan-abu-vulkanik-ini-9-cara-melindungi-pernapasan-dan-mata)

Admin

Member penulis di Punyalink — Platform biolink & passive income Indonesia.

Lihat Profil Lengkap →
💬 Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

✍️ Tulis Komentar