Ilustrasi emosi seseorang. ANTARA/Ardika/am. Jakarta (ANTARA) - Istilah tone deaf kian populer dan kerap dijumpai dalam berbagai perbincangan di media sosial. Sebutan ini umumnya ditujukan kepada figur publik, pejabat negara, maupun pengguna internet yang dinilai acuh serta tidak memiliki empati terhadap krisis sosial atau penderitaan sesama.
Secara harfiah, tone deaf bermakna tuli nada, yaitu ketidakmampuan seseorang dalam mengenali atau menyanyikan nada dengan tepat. Namun, penggunaan istilah ini telah meluas menjadi sebuah kiasan dalam interaksi sosial.
Melansir Hearview, istilah tone deaf dalam percakapan modern digunakan untuk menggambarkan komentar atau tindakan yang dianggap tidak peka terhadap situasi maupun perasaan orang lain.
Perilaku ini menunjukkan kegagalan dalam membaca suasana (read the room) serta memahami isyarat emosional dan sosial di lingkungan sekitar. Akibatnya, suatu pernyataan dapat terasa canggung, menyinggung, atau mencerminkan kurangnya empati. Sementara itu, Cambridge Dictionary mendefinisikan tone deaf sebagai ketidakmampuan memahami perasaan orang lain. Istilah ini umumnya merujuk pada kekeliruan dalam menilai situasi atau menunjukkan kepekaan, bukan berarti seseorang memiliki sifat tidak peka secara permanen.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Penyebab seseorang menjadi tone deafDilansir dari HuffPost, salah satu penyebab seseorang menjadi tone deaf adalah kebiasaan tidak benar-benar mendengarkan orang lain.
Mendengarkan bukan sekadar menangkap perkataan, tetapi juga memahami maksud, perasaan, tindakan, dan situasi yang terjadi.Seseorang bisa merasa sudah mendengarkan, tetapi hanya memahami informasi di permukaan.
Kebiasaan membaca informasi secara sekilas, melakukan beberapa aktivitas sekaligus, atau hanya fokus pada hal yang menarik dapat membuat konteks penting terlewat.
Selain itu, tone deaf dapat muncul ketika seseorang terlalu terpaku pada asumsi atau pandangan sendiri. Akibatnya, informasi hanya disaring berdasarkan keyakinan yang sudah dimiliki.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Ciri perilaku tone deafSeseorang dapat dianggap tone deaf ketika tidak mampu menyesuaikan ucapan atau tindakannya dengan situasi dan perasaan orang lain. Beberapa cirinya antara lain:1. Sulit membaca situasiTetap melakukan atau mengatakan sesuatu tanpa mempertimbangkan kondisi dan suasana di sekitarnya.
2. Kurang peka terhadap keadaanTidak menyadari bahwa ucapan atau tindakannya dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman, tersinggung, atau kecewa.
3. Bersikap tidak pantasMengeluarkan komentar atau melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma sosial maupun konteks yang sedang terjadi.
4. Mengabaikan atau mengolok-olok harapan sosialMerespons situasi serius dengan candaan, sarkasme, atau ejekan, bahkan ketika memahami bahwa ada pihak yang merasa terganggu.
5. Sulit menerima kritikCenderung menganggap tindakannya sudah benar dan mengabaikan masukan ketika orang lain menunjukkan bahwa perilakunya tidak tepat.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Kirim Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.
Sumber Rujukan Berita Resmi: antaranews.com (https://www.antaranews.com/berita/5742028/arti-tone-deaf-karakteristik-dan-penyebab-seseorang-kurang-empati)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
✍️ Tulis Komentar