Seorang staf menyiapkan minuman matcha di sebuah kedai teh di kawasan industri Guizhou Gui Tea Group Co., Ltd. di Jiangkou, Provinsi Guizhou, China, Rabu (14/5/2025). ANTARA/Xinhua/Yang Wenbin/aa. Jakarta (ANTARA) - Matcha kini menjadi salah satu minuman favorit banyak orang. Rasanya yang khas, kandungan antioksidannya yang tinggi, serta efek menyegarkan dari kafein membuat minuman asal Jepang ini semakin digemari. Namun, bagi ibu menyusui, muncul pertanyaan apakah matcha aman dikonsumsi dan apakah kandungan kafeinnya dapat memengaruhi bayi.
Jawabannya adalah boleh, tetapi dalam jumlah yang wajar. Para ahli menyebutkan bahwa ibu menyusui masih dapat mengonsumsi matcha selama total asupan kafein harian tidak melebihi batas yang direkomendasikan.
Hal ini penting karena hampir semua yang dikonsumsi ibu menyusui, termasuk kafein, dapat masuk ke dalam ASI dalam jumlah tertentu dan kemudian dikonsumsi oleh bayi.
Saat ibu mengonsumsi minuman berkafein, sebagian kecil kafein akan terserap ke dalam aliran darah dan diteruskan ke ASI. Meski demikian, jumlah yang masuk ke ASI relatif kecil.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Berdasarkan berbagai penelitian, sekitar 1 hingga 1,5 persen dari total kafein yang dikonsumsi ibu akan berpindah ke ASI. Dengan jumlah tersebut, sebagian besar bayi yang sehat umumnya tidak mengalami masalah apabila ibu mengonsumsi kafein dalam batas yang dianjurkan.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya matcha, tetapi juga seluruh sumber kafein lain yang dikonsumsi setiap hari, seperti kopi, teh hitam, minuman energi, soda, atau cokelat.
Satu cangkir matcha tradisional yang dibuat menggunakan sekitar 2 gram bubuk matcha mengandung sekitar 68 miligram kafein. Sementara itu, jika menggunakan sekitar setengah sendok teh bubuk matcha, kandungan kafeinnya umumnya kurang dari 40 miligram per sajian.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) serta Academy of Breastfeeding Medicine menyarankan agar ibu menyusui membatasi konsumsi kafein hingga maksimal 300 miligram per hari.
Artinya, satu hingga dua cangkir matcha per hari umumnya masih dianggap aman bagi sebagian besar ibu menyusui, selama tidak disertai konsumsi minuman berkafein lain dalam jumlah berlebihan.
Sebagai contoh, dua cangkir matcha dengan kandungan sekitar 68 miligram kafein per cangkir menghasilkan total sekitar 136 miligram kafein. Jumlah tersebut masih berada di bawah batas konsumsi harian yang direkomendasikan.
Meski sama-sama mengandung kafein, efek matcha sering kali terasa berbeda dibandingkan kopi.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Matcha mengandung L-theanine, yaitu asam amino alami yang terdapat pada daun teh. Senyawa ini diketahui dapat memperlambat penyerapan kafein sehingga energi yang dihasilkan terasa lebih stabil dan tidak menimbulkan lonjakan maupun penurunan energi secara tiba-tiba seperti yang sering dirasakan setelah minum kopi.
Meski begitu, kandungan kafein dalam matcha tetap perlu diperhitungkan sebagai bagian dari total konsumsi kafein harian.
Bagi ibu yang baru melahirkan atau baru pertama kali mencoba matcha saat menyusui, disarankan untuk memulai dari setengah hingga satu cangkir per hari.
Setelah itu, amati kondisi bayi selama sekitar 48 jam. Bila tidak muncul perubahan perilaku yang mencurigakan, konsumsi dapat dilanjutkan sesuai kebutuhan tanpa melebihi batas kafein harian.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Pendekatan ini membantu ibu mengetahui apakah bayi memiliki sensitivitas terhadap kafein yang masuk melalui ASI.
Selain jumlahnya, waktu mengonsumsi matcha juga perlu diperhatikan.
Para ahli menyarankan agar matcha diminum pada pagi atau siang hari. Mengonsumsi matcha pada malam hari sebaiknya dihindari karena kandungan kafeinnya dapat memengaruhi pola tidur ibu maupun bayi.
Apabila jadwal menyusui tidak menentu, minum matcha segera setelah menyusui dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Cara ini memberikan jeda waktu beberapa jam sebelum sesi menyusui berikutnya sehingga kadar kafein dalam ASI dapat menurun.
Kenali tanda bayi sensitif terhadap kafein
Meskipun jarang terjadi, beberapa bayi dapat menunjukkan tanda-tanda sensitif terhadap kafein.
Gejala yang perlu diperhatikan antara lain bayi menjadi lebih rewel dari biasanya, sulit tidur, lebih sering terbangun, atau tampak gelisah dalam waktu sekitar dua hingga empat jam setelah ibu mengonsumsi minuman berkafein.
Pada beberapa kasus, bayi juga dapat terlihat lebih aktif atau mudah terkejut, meski kondisi ini relatif jarang terjadi.
Jika gejala tersebut muncul secara berulang, ibu dapat mencoba mengurangi jumlah matcha yang dikonsumsi atau menghentikannya selama dua hingga tiga hari untuk melihat apakah kondisi bayi membaik.
Namun, perlu diingat bahwa rewel, sulit tidur, atau sering terbangun juga dapat disebabkan oleh berbagai faktor lain, seperti tumbuh gigi, kolik, atau fase perkembangan bayi. Karena itu, pengamatan selama beberapa hari diperlukan sebelum menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah kafein.
Secara umum, matcha dapat menjadi pilihan minuman bagi ibu menyusui selama dikonsumsi dalam jumlah yang wajar dan total asupan kafein harian tidak melebihi 300 miligram.
Selain memperhatikan jumlahnya, ibu juga sebaiknya memilih bubuk matcha berkualitas baik, menghindari tambahan gula berlebihan, serta tetap menjaga pola makan bergizi seimbang agar kebutuhan nutrisi selama menyusui tetap terpenuhi.
Jika bayi lahir prematur, memiliki kondisi kesehatan tertentu, atau ibu masih ragu mengenai konsumsi kafein selama menyusui, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi untuk mendapatkan saran yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Kirim Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.
Sumber Rujukan Berita Resmi: antaranews.com (https://www.antaranews.com/berita/5685793/bolehkah-ibu-menyusui-minum-matcha-ini-batas-aman-kafeinnya)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
✍️ Tulis Komentar