🔥 INFO RESMI
🚀 JASA PEMBUATAN WEBSITE PROFESIONAL (Mulai 700 Rb, 1–3 Hari Jadi)  •  🤝 Komisi Reseller Website 15% (Rp 105rb s/d Rp 375rb+)  •  📰 Tulis Artikel Berita dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎬 Join Campaign Clipper dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎁 Bonus E-Book Bisnis & 7 Creator Tools Gratis  •  Lihat Paket Jasa →  •  Pelajari Marketing Plan →  •  Daftar Member Gratis → 🚀 JASA PEMBUATAN WEBSITE PROFESIONAL (Mulai 700 Rb, 1–3 Hari Jadi)  •  🤝 Komisi Reseller Website 15% (Rp 105rb s/d Rp 375rb+)  •  📰 Tulis Artikel Berita dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎬 Join Campaign Clipper dapat Rp 2.000 / 1.000 views  •  🎁 Bonus E-Book Bisnis & 7 Creator Tools Gratis  •  Lihat Paket Jasa →  •  Pelajari Marketing Plan →  •  Daftar Member Gratis →
punyalink.id
Benarkah air hujan bikin pusing? Ini faktanya
Gaya Hidup

Benarkah air hujan bikin pusing? Ini faktanya

Ilustrasi sakit kepala. (ANTARA/Pexels/Andrea Piacquadio) Jakarta (ANTARA) - Sebagian orang mungkin pernah merasakan kepala berdenyut atau terasa berat setelah kehujanan. Ada juga yang mengeluhkan pusing ketika cuaca berubah dari panas menjadi mendung dan hujan.

Kondisi ini kemudian sering dikaitkan langsung dengan air hujan. Bahkan, muncul anggapan bahwa air hujan yang mengenai kepala bisa membuat seseorang pusing.

Sebenarnya, air hujan bukan penyebab langsung sakit kepala atau pusing. Namun, perubahan kondisi cuaca yang terjadi sebelum dan saat hujan memang dapat menjadi salah satu pemicu sakit kepala, terutama pada orang yang sensitif terhadap perubahan cuaca atau memiliki migrain.

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah tekanan udara atau tekanan barometrik.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menjelang hujan atau badai, tekanan udara dapat mengalami perubahan. Pada sebagian orang yang memiliki migrain, perubahan tekanan ini dapat menjadi pemicu munculnya serangan sakit kepala.

American Migraine Foundation menjelaskan bahwa perubahan tekanan barometrik merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpotensi memicu migrain. Perubahan tersebut dapat berpengaruh pada kondisi di sekitar tubuh dan memicu gejala pada orang yang memang sensitif terhadap perubahan cuaca.

Mayo Clinic juga mencatat bahwa perubahan cuaca dan tekanan barometrik dapat memicu migrain pada sebagian orang. Faktor lain yang berhubungan dengan cuaca antara lain suhu yang terlalu panas atau dingin, kelembapan tinggi, udara kering, angin dan badai.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bukan cuma hujan, suhu dan kelembapan juga berpengaruh

Ketika hujan turun, suhu udara biasanya ikut berubah. Kondisi menjadi lebih dingin dan kelembapan meningkat.

Bagi orang tertentu, perubahan tersebut dapat menjadi pemicu sakit kepala. Namun, respons setiap orang berbeda. Ada yang sama sekali tidak merasakan perubahan, sementara orang dengan riwayat migrain bisa lebih sensitif.

Mayo Clinic menyebut panas atau dingin ekstrem, kelembapan tinggi, udara kering serta cuaca berangin atau badai sebagai beberapa kondisi yang dapat memicu migrain.

Jadi, jika kepala terasa pusing setelah hujan, bukan berarti air hujannya secara langsung menyebabkan keluhan tersebut.

Ada faktor lain yang lebih sederhana. Setelah kehujanan, tubuh bisa merasa dingin, pakaian menjadi basah dan seseorang mungkin mengalami perubahan suhu tubuh yang cukup cepat.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kondisi tersebut dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman. Jika seseorang kemudian kurang minum, belum makan, kelelahan atau kurang tidur, sakit kepala juga bisa lebih mudah muncul.

NHS mencatat kurang minum atau dehidrasi, stres, flu, tidak makan secara teratur dan sejumlah kondisi lain sebagai penyebab umum sakit kepala.

Artinya, hujan mungkin hanya menjadi salah satu bagian dari rangkaian kondisi yang terjadi ketika sakit kepala muncul.

Jika kepala mulai terasa tidak nyaman ketika cuaca berubah, langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memastikan tubuh cukup minum, makan secara teratur dan mendapatkan tidur yang cukup.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bagi orang yang sering mengalami migrain, mencatat kapan sakit kepala muncul juga dapat membantu. Catat kondisi cuaca, waktu munculnya sakit kepala, makanan atau minuman yang dikonsumsi, waktu tidur dan aktivitas yang dilakukan.

Catatan tersebut dapat membantu menemukan pola pemicu yang mungkin selama ini tidak disadari. Mayo Clinic juga menyarankan pencatatan sakit kepala untuk membantu mengidentifikasi pemicu migrain.

Namun, sakit kepala yang muncul tiba-tiba dan sangat berat, disertai kelemahan atau mati rasa, gangguan penglihatan, sulit berbicara, kebingungan, kejang, atau demam tinggi dan leher kaku membutuhkan pertolongan medis segera.

Jadi, benarkah air hujan bikin pusing? Jawabannya tidak secara langsung. Yang lebih mungkin berperan adalah perubahan cuaca yang menyertai hujan, seperti tekanan udara, suhu dan kelembapan, terutama pada orang yang memang sensitif terhadap kondisi tersebut.

Dengan kata lain, bukan air hujannya yang membuat kepala pusing, melainkan perubahan lingkungan dan kondisi tubuh yang terjadi di sekitar waktu hujan.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Kirim Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

Sumber Rujukan Berita Resmi: antaranews.com (https://www.antaranews.com/berita/5761641/benarkah-air-hujan-bikin-pusing-ini-faktanya)

Admin

Member penulis di Punyalink — Platform biolink & passive income Indonesia.

Lihat Profil Lengkap →
💬 Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

✍️ Tulis Komentar